UPA Perpustakaan Universitas Tadulako bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tadulako menyelenggarakan kegiatan bedah buku bertajuk “Melepaskan Rasa Kepemilikan” pada Selasa, 12 Mei 2026, bertempat di Ruang Baca Gedung B Perpustakaan UNTAD.
Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WITA tersebut menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan budaya literasi akademik di lingkungan Universitas Tadulako, sekaligus membuka ruang diskusi ilmiah dan reflektif bagi sivitas akademika serta masyarakat umum.

Acara ini menghadirkan Dekan FEB Untad, Prof. Wahyuningsih, S.E., M.Sc., Ph.D., dan Kepala UPA Perpustakaan Untad, Hj. Nurhayati, S.Sos., M.Si., yang turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan literasi tersebut. Melalui kegiatan bedah buku ini, peserta diajak untuk memahami lebih dalam isi, pesan, serta nilai-nilai yang terkandung dalam buku “Melepaskan Rasa Kepemilikan”.

Selain menjadi sarana berbagi gagasan dan wawasan, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan minat baca serta memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat literasi, edukasi, dan pengembangan pengetahuan di lingkungan kampus.

Antusiasme peserta terlihat dari kehadiran mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan pengunjung perpustakaan yang mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pandangan dan pengalaman yang memperkaya pemahaman peserta terhadap tema yang diangkat dalam buku tersebut.






Materi bedah buku “Melepaskan Rasa Kepemilikan” membahas tentang bagaimana manusia belajar memahami hakikat kehidupan, melepaskan keterikatan berlebihan terhadap dunia, serta membangun ketenangan hati melalui keimanan dan kedekatan kepada Allah. Materi ini disampaikan dengan pendekatan reflektif, spiritual, dan pengembangan karakter diri.
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa rasa memiliki yang terlalu kuat terhadap harta, jabatan, hubungan, maupun kenyamanan hidup dapat menimbulkan berbagai persoalan batin seperti stres, kecewa, depresi, hingga sulit memperoleh ketenangan hidup. Karena itu, manusia diajak untuk belajar melepaskan keterikatan terhadap hal-hal duniawi agar memiliki jiwa yang lebih tenang dan ikhlas dalam menjalani kehidupan.
Dalam penyampaian materi juga menekankan bahwa ketenangan sejati hanya dapat dicapai melalui ketaatan dan ketundukan kepada Allah. Manusia pada hakikatnya lahir tanpa membawa apa-apa dan akan kembali kepada Allah dalam keadaan yang sama. Oleh sebab itu, kehidupan tidak seharusnya hanya berorientasi pada kepemilikan, melainkan pada bagaimana manusia memanfaatkan amanah kehidupan untuk kebaikan.




Dalam sesi pembahasan, narasumber menjelaskan konsep “tangga karakter” yang dimulai dari ilmu, pemahaman, keyakinan, iman, takwa, syukur, hingga mencapai rosyad atau kondisi ketika seseorang selalu berada dalam bimbingan Allah. Proses ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter spiritual memerlukan pembelajaran dan latihan sepanjang hayat.
Buku ini juga mengulas hubungan antara kepemilikan dan ego. Dijelaskan bahwa manusia sering kali tidak benar-benar mencintai benda, jabatan, atau status, tetapi lebih mencintai pengakuan dan rasa berharga yang diberikan hal tersebut kepada ego diri. Oleh karena itu, pengendalian ego menjadi bagian penting dalam proses melepaskan rasa kepemilikan. Materi diperkuat dengan beberapa ayat Al-Qur’an yang mengingatkan manusia agar tidak terperdaya oleh kehidupan dunia dan hawa nafsu.
Selain pembahasan teoritis, materi juga memberikan langkah-langkah praktis untuk melatih diri melepaskan keterikatan, seperti membangun abundance mindset (pola pikir kelimpahan), melakukan muhasabah, muraqabah, tafakur, menulis jurnal syukur, membiasakan memberi kepada sesama, serta melatih keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada bagian penutup, disampaikan pesan bahwa manusia sebaiknya menjadikan dunia berada di tangan, bukan di hati. Dengan demikian, segala hal yang dimiliki dapat digunakan untuk kebaikan dan lebih mudah dilepaskan ketika saatnya tiba. Pesan tersebut menjadi inti refleksi dari buku “Melepaskan Rasa Kepemilikan”, yakni membangun kehidupan yang lebih tenang, bermakna, dan dekat dengan nilai-nilai spiritual.
Melalui kegiatan ini, UPA Perpustakaan Untad bersama FEB Untad berharap dapat terus menghadirkan program-program literasi yang inspiratif dan bermanfaat bagi pengembangan karakter, intelektual, serta budaya membaca di kalangan sivitas akademika Universitas Tadulako (Selasa, 12/05/2026).