In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player

Powered by RS Web Solutions

Minggu Buka, Perpustakaan Kab Bandung Diserbu

Ratusan pengunjung menyerbu Perpustakaan Kab. Bandung di komplek Pemkab Bandung saat hari libur, Minggu (2/12/12). Setiap Sabtu dan Minggu perpustakaan tetap melayani masyarakat meskipun hanya setengah hari.

Menurut seorang pengunjung, Hj. Yeti, mengunjungi perpustakaan merupakan keasyikan tersendiri karena bisa membawa anak-anaknya untuk ikut membaca.

“Saya ingin membiasakan anak-anak membaca sejak kecil sehingga berupaya membawa anak-anak untuk bermain-main di perpustakaan,” katanya.

Apalagi perpustakaan Kab. Bandung memiliki ruangan khusus bagi anak+ anak yang terpisahkan dengan ruangan lainya. “Selain membaca, anak-anak juga bisa bermain alat permainan edukatif seperti puzzle, menggambar, mewarnai, dan lain-lain,” katanya.

Demikian pula dengan ketersediaan beberapa koran harian dan majalah sehingga memanjakan para pengunjung. “Zona hot spot internet juga ada,” katanya.

Perpustakaan Berjejaring Terkendala Kultur

Perkembangan teknologi informasi menjalar pesat dalam pedidikan. Kemajuan teknolgi mendorong terciptanya perpustakaan berjejaring secara nasional melalui aplikasi mobile. Hanya saja, untuk membangun aplikasi tersebut masih terdapat tantangan dan kendala. Menurut Dosen Manajemen Informasi dan Perpustakaan Sekolah Pascasarjana UGM Profesor Achmad Djunedi perbedaan kultur menjadi kendala membangun perpustakaan berjejaring berbasis mobile. Dari yang sebelumnya perpustakaan tradisional.Djunedi mengatakan perpustakaan tradisional kemampuannya masih berorientasi pada koleksi.

Dengan struktur hirarki dan layanan yang terbatas. Sehingga pengguna pun terbatas, disamping masih berorientasi pada masa lalu dan fokus berupa koleksi.”Perpustakaan berjejaring memiliki kultur kemampuan pada akses infromasi cepat. Pengguna dari manapun dengan bebas mengetahui pengetahuan yang tersebar,” terang Djunedi dalam seminar nasional Menuju Perpustakaan Berjejaring dan Mobile di Grha Sabha Pramana (GSP) UGM (4/12).
Pasokan teknologi informasi dan manajemen informasi, merupakan faktor yang harus diperhatikan dalam membangun perpustakaan berjejaring dan mobile. Pasalnya, untuk menyediakan pasokan teknologi informasi membutuhkan dana yang cukup besar.Djunedi menambahkan, dalam hal manajemen informasi, diperlukan kemampuan baru atau sumber daya manusia yang ahli. Belum lagi, persoalan pengamanan terhadap akses dan kemungkinan adanya pencurian digital.

”Sementara tantangan di masa depan dihadapkan pada penambahan koleksi digital yang terkendala oleh hak cipta (copyrights),” jelasnya.Sedangkan dosen Teknik Informatika Universitas Kristen Duta Awacana (UKDW) Budi Susanto mengatakan aplikasi mobile untuk perpustakaan dapat dimulai dengan terlebih dahulu memahami teknologi dan tren mobile. Masyarakat juga diajarkan mengenai pemahaman terhadap dampak dari teknologi mobile terhadap informasi dan perpustkaan.

Tahapan pengembangan, terang Budi, bisa dilakukan dengan menyiapkan laman perpustakaan versi mobile yang dapat berisi profil perpustakaan, pencarian katalog, informasi operasional, dan kebijakan perpustakaan layanan pemesanan buku.”Berikutnya perpustakaan digital bisa menyediakan fasilitas berbagi pada situs jejaring sosial, memfasilitasi pembaca e-book, dan mengembangkan visual tour,” jelas Budi.

Ada Ruang Khusus Untuk Anak di Perpustakaan

Ratusan siswa TK, SD, SMP dan SMK dari lima wilayah kota Jakarta mengunjungi fasilitas ruang baca anak-anak di Perpustakaan Daerah Provinsi DKI Jakarta. Kunjungan tersebut merupakan puncak dari rangkaian peringatan Hari Anak Jakarta Membaca (Hanjaba) 2012.

“Kami ajak anak-anak ke perpustakaan daerah untuk menunjukkan bahwa ada ruangan khusus bagi mereka untuk membaca buku-buku perpustakaan,” ujar Kasubdit Layanan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DKI Jakarta Siti Sarah didampingi Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) DKI Yopie Dahlan pada kegiatan layanan bercerita, Kamis (6/12).

Fasilitas berupa ruangan layanan bercerita ini dilengkapi dengan ribuan koleksi buku anak-anak berbagai jenis, komputer dan jaringan internet. Selain itu juga ada panggung untuk berekspresi.

Siti Sarah mengakui fasilitas ruang baca untuk anak-anak yang disediakan BPAD ini belum banyak diketahui masyarakat. Banyak masyarakat beranggapan bahwa perpustakaan daerah hanya menyediakan koleksi buku-buku untuk bacaan orang dewasa, karyawan dan mahasiswa.
Karena itu, untuk mensosialisasikan lebih luas lagi fasilitas ruangan baca anak-anak tersebut, BPAD bekerjasama dengan Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) DKI Jakarta melakukan kunjungan sekaligus panggung ekspresi bagi anak-anak pelajar.

“Di ruang layanan anak-anak ini, anak-anak bisa membaca, main internet bahkan bercerita dipanggung yang sudah disediakan. Buka selama 7 hari dan dapat dimanfaatkan oleh siapapun,” pungkas Siti Sarah.

Rangkaian Hanjaba 2012 yang diresmikan di Tugu Proklamasi Menteng, Jakpus dimeriahkan dengan berbagai kegiatan mulai dari pameran, panggung musik, kunjungan ke museum, lomba menulis sinopis hingga layanan bercerita.(inung)

Teks: Kasie Layanan BPAD DKI Jakarta Siti Sarah mengunjungi fasilitas ruang baca bagi anak-anak di perpustakaan daerah.

Pustaka Soeman HS Menuju Era Digital Berbasis Data Center

Perpustakaan Wilayah (Puswil) Soeman HS Provinsi Riau, terus berbenah diri dan inovasi dalam mengikuti perkembangan dunia teknologi yang terus berubah ke era dunia Digital. Maka Untuk tidak ketinggalan jaman, Puswil tahun 2013 mendatang akan dibangun infrastruktur perpustakaan Digital dan pusat layanan data.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Kearsipan dan Kepustakaan Daerah Provinsi Riau, Rizka Utama kepada riauterkini, Selasa (4/12/12) di kantornya saat ditanya program Perpustakaan Soeman HS tahun 2013 mendatang.

“Tahun anggaran 2013 ini kita sudah mengajukan anggaran untuk pembangunan sarana infrastruktur perpustakaan Digital dan pusat pelayanan data Center Perpustakaan,” katanya.

Mantan Kepala Biro Tata Pemerintahan Setdaprov Riau ini menjelaskan, dengan diterapkannya sistem perpustaakn Digital. Maka akan memudahkan bagi pengunjung untuk memilih dan mencari buku apa yang pengunjung inginkan bisa dilihat di Digital dan bahkan bisa membaca lewat komputer.

“Dan perpustakaan era Digital ini akan membangun sistem jaringan pelayan perpustakan secara elektronik. Artinya, seluruh buku dan pengamanan kearisipan bisa terlayani secara elektronik,” ujarnya.

Sebagai salah satu perpustakaan terbaik di Indonesia dan sudah memiliki agreditasi A, kata Rizka, pihaknya akan terus berbenah diri dengan mengikuti perkembangan era Digital dan modernisasi agar tidak tertinggal dari daerah-daerah lain.

“Rujukan kita saat ini adalah Perpustkaan di Singapura. Walaupun begitu kita ingin menjadi Perpustakaan daerah terbaik di Indonesia dengan memberikan mamfaat kepada warga masyarakat dalam mencerdaskan bangsa,” ungkapnya.

Untuk anggaran, Perputakaan dan Kearsipan Provinsi Riau tahun 2013 mendatang. Rizka mengakui telah mengajukan anggaran kurang lebih Rp 40 miliar dalam melaksanakan program-program yang direncanakan.

“Dan tahun ini kita sudah mengajukan anggaran, kurang lebih nilainya Rp 40 miliar. Dan ini untuk menunjang program kerja yang kita rencanakan sepanjang tahun 2013 mendatang,” katanya.

Perpustakaan Gerobak, Saat Buku Menghampiri Siswa

Berisikan 600 buku yang sudah tertata rapi, gerobak terbuat dari kayu warna cokelat itu sudah ada sejak pagi, sebelum bel kelas berbunyi.

Seorang pria berusia 45 tahun sambil memegang sebuah kemucing, sibuk membersihkan debu-debu yang mengotori etalase gerobak.

“Saya hanya melaksanakan tugas. Pekerjaan ini terasa lebih ringan karena siswa sangat senang membaca,” ujar Suwarto, Kepala Perpustakaan SDN Tanah Merah Dajah I, Bangkalan, Jawa Timur, Jumat (7/12/2012).

Buku-buku yang disediakan tidak hanya buku pelajaran sekolah, buku cerita juga ada.

“Rata-rata siswa lebih gemar membaca buku cerita bergambar. Di antara mereka masih ada yang suka baca buku pelajaran,” tutur Suwarto.

Selain buku-buku pelajaran dan buku cerita bergambar, siswa juga dikenalkan dengan aneka mata uang Indonesia dan perangko zaman dulu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB, Suwarto mulai berkemas. Penyangga roda gerobaknya pun dilepas. Dalam waktu 30 menit jam istirahat, ia harus menjangkau enam kelas.

“Kadang juga tidak keliling. Cukup mangkal di satu kelas, siswa yang mendatangi gerobak. Itu suatu kepuasan bagi saya,” ucap Suwarto yang sudah dua tahun mendorong gerobak perpustakaan.

Sulaiman, siswa kelas 5 menuturkan, ia lebih memilih membaca buku-buku di perpustakaan gerobak, kendati buku di perpustakaan sekolah lebih banyak.

“Di ruang perpustakaan sekolah pengunjungnya banyak, membacanya kurang konsentrasi,” jelas Sulaiman.

Kepala SDN Tanah Merah Dajah I M Nashir mengungkapkan, minat baca 273 anak didiknya sangat tinggi, hingga pihak sekolah menyediakan 3.500 buku di perpustakaan sekolah.

“Mereka sudah terbiasa masuk perpus. Kami hanya memantau dan terus menanamkan pentingnya membaca buku,” paparnya kepada Surya.

Gerobak perpustakaan berlabel Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN) sengaja dibuat, untuk lebih memberikan tempat kepada siswa agar gemar membaca.

“Kami pernah Juara Harapan II Tingkat Provinsi Jatim dalam acara Lomba Perpustakaan se-Jatim Tahun 2009,” ungkapnya.

Kabid TK/SD/SDLB Dinas Pendidikan Bangkalan Fauzi mengemukakan, keberadaan gerobak perpustakaan keliling di SDN Tanah Merah Dajah I merupakan inovasi sekolah.

“Perlu dikembangkan dan dijadikan contoh oleh sekolah-sekolah lain di Kabupaten Bangkalan,” harapnya.

Mantan Kepala UPT Kecamatan Burneh tak henti-hentinya memberikan apresiasi kepada Suwarto, atas dedikasinya terhadap dunia pendidikan.

“Dia (Suwarto) terus mencari referensi dan sumber-sumber buku untuk kepentingan siswa. Karena, dari pusat belum ada program khusus bantuan buku, kecuali lewat DAK (Dana Alokasi Khusus),” urainya.

Fauzi berharap, SDN Tanah Merah Dajah I bisa menjadi percontohan bagi sekolah lain. Apa yang diharapkan Fauzi nampaknya belum bisa terwujud dalam waktu dekat. Sebab, belum semua SD yang ada di Bangkalan memenuhi syarat memiliki perpustakaan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Disdik Bangkalan, hanya 400 SD dari 600 SD yang status lahannya jelas.

“Dari jumlah (400 SD) itu, hanya 60-70 persen yang mempunyai perpustakaan. Selebihnya masih terkendala lahan dan luas tanah,” terang Kabid Sarpras Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika.

SD yang tidak memiliki perpustakaan tak hanya ada di pelosok desa. Di perkotaan pun masih ada SD yang belum mempunyai perpustakaan.

“Seperti SDN Demangan 3 dan 4 yang terkendala oleh luas lahan. Tidak mungkin dibangun perpus dengan cara ditingkat. Karena, konstruksi bangunan di bawahnya bukan untuk bangunan tingkat,” cetusnya.